KABUPATEN SEMARANG | KORANLIV.COM- Nuansa budaya dan hiburan rakyat mewarnai peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat di Kabupaten Semarang. Festival Lomba Kuda Lumping digelar di Dusun Jatisari RW 4, Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Minggu (23/8/2026).
Ratusan warga tampak antusias menyaksikan penampilan enam kelompok kesenian kuda lumping yang berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Bergas, Bawen, dan Pringapus.
Mengusung tema “Perayaan Budaya, Warisan Bangsa, Kebanggaan Indonesia”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kesenian tradisional.
Atraksi para peserta berlangsung meriah. Penilaian lomba meliputi kostum, keseragaman pakaian, gerakan tari, serta kekompakan kelompok. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat peserta maupun warga yang datang menyaksikan.
Sejumlah tokoh Partai Demokrat turut hadir, di antaranya Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Semarang H. Parno dan Anggota DPRD Kabupaten Semarang Lily Sri Wachiduni Choiriyah, S.E., bersama jajaran pengurus dan kader.
“Di Kabupaten Semarang ada beberapa kegiatan, yaitu pengobatan gratis, lomba olahraga voli, serta kegiatan kebersihan lingkungan yang sudah dilaksanakan,” ujar Lily.
Menurutnya, kegiatan budaya menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan kembali kesenian warisan leluhur kepada generasi muda.
“Dengan merawat seni dan budaya warisan leluhur, selain memberikan tontonan hiburan kepada masyarakat, kami juga ingin mengingatkan generasi penerus bahwa seni budaya bisa menjadi kekuatan untuk menjaga persatuan dan kesatuan,” katanya.
Sementara itu, H. Parno menyampaikan bahwa festival tersebut diikuti enam kelompok kesenian. Proses penjurian dilakukan oleh tim internal Demokrat dengan melibatkan satu juri dari luar.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar sebagai bagian dari upaya Partai Demokrat hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa membuat kami turun dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Tujuannya, seperti yang diinstruksikan ketua umum, kami harus bisa memberikan solusi kepada masyarakat,” ujar Parno.
Desa Jatirunggo dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki tempat yang mendukung dan mendapat respons positif dari masyarakat setempat.
Festival tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menjaga eksistensi seni tradisional di tengah perkembangan hiburan modern. Kesenian kuda lumping diharapkan tetap hidup dan dapat terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
Laporan | Kang Adi

